Single post

Fakta dan Mitos Seputar Rokok yang Perlu Diketahui

Fakta dan Mitos Seputar Rokok yang Perlu Diketahui,- Walaupun sudah banyak pakar kesehatan yang menyebutkan bahwa merokok dapat membunuhmu, namun hal ini tidak membuat para perokok gentar. Padahal, berdasarkan data The Tobacco Atlas 2010 rokok bisa menyebabkan kematian setitar 19,8 pria dewasa dan 8,1 wanita dewasa.

Berhenti merokok memang buhan hal yang mudah dilakukan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Ada banyak alasan yang membuat seseorang merokok. Untuk berhenti juga sangat sulit, terlebih lagi karena adanya mitos-mitos salah yang pada akhirnya membuat para perokok memilih untuk terus merokok.

Mitos-mitos menyesatkan ini terkadang membuat orang malas atau takutm untuk berhenti merokok, atau justru menganggap jika berhenti merokok adalah kegiatan yang sia-sia karena toh paru-paru sudah rusak.

Berikut ini merupakan fakta dan mitos seputar rokok yang perlu diketahui dan masih cukup dipercayai, diantaranya :

Mitos 1 : Berhenti merokok bisa membuat tubuh sakit dan berat badan naik

Faktanya, orang yang terbiasa merokok dalam jumlah yang banyak pada jangka waktu yang panjang umumnya telah mengalami kecanduan nikotin. Ini menyebabkan perokok yang berhenti merokok akan mengalami kondisi tertentu seperti sakit kepala, batuk, konstipasi, kecemasan, atau kelelahan.

Umumnya kondisi ini merupakan situasi yang umum terjadi dan akan membaik dalam hitungan minggu. Jadi, gejala-gejala tersebut bukanlah penyakit, melainkan gejala penghentian nikotin yang akan membaik dalam beberapa waktu.

Selain itu, beberapa studi ilmiah juga menunjukkan bahwa orang yang berhenti merokok memang cenderung akan jadi lebih gemuk. Namun, bertambahnya berat badan ini tidak disebabkan karena menghentikan kebiasaan merokok, tetapi karena orang yang merokok biasanya cenderung memiliki gaya hidup yang kurang sehat, seperti mengonsumsi banyak makanan tidak sehat dan jarang berolahraga.

Mitos 2 : Berhenti merokok bikin stres

Ada benarnya, jika Anda sudah ebrada pada tahap kecanduan, maka berhenti mengonsumsi tembakau bisa membuat Anda stres karena rasanya ada yang hilang. Namun, tidak ada b ukti bahwa stres tersebut bisa menimbulkan efek negatif yang berkepanjangan.

Faktanya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perokok yang berhenti merokok akan mulai makan dengan baik, lebih banyak berolahraga, dan merasa lebih baik. Mereka juga memiliki mental yang lebih baik. Dalam jangka pendek, rokok memang menawarkan bantuan untuk mengatasi stres. Namun dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan kecanduan merokok.

Mitos 3 : Merokok sesekali tidak apa-apa

Fakta : Jika Anda tengah berjuang untuk berhenti merokok, mungkin pernah muncul dibenak Anda jika tidak apa-apa jika sesekali Anda kembali menghisap rokok. Sayangnya, membiarkan bahan sekecil apapun jumlah nikotin kembali masuk ke dalam tubuh dapat merusak pembuluh darah dan membuat darah membeku.

Selain itu, perokok sosial atau social smoker juga tetap memiliki risiko terkena dampak merokok. Perlu diingat, setiap rokok mengandung 4.000 zat kimia berbahaya dan racun sehingga sekali saja merokok, maka zat tersebut akan masuk ke dalam tubuh.

Mitos 4 : Rokok mild memiliki risiko yang lebih kecil

Perokok yang sudah sadar akan bahaya merokok, tapi tetap merokok dengan berganti produk ke ‘mild’ atau yang lebih ringan, sering berpikir bahwa risiko yanga kan diterimanya akan lebih kecil.

Faktanya, setiap produsen rokok memiliki patokan yang berbeda mengenai kadar yang dapat disebut tinggi dan rendah. Seorang perokok yang beralih ke produk yang mengklaim mengandung tar dan nikotin rendah akan merasa bahwa dia telah mengurangi bahay rokok.

Namun, tampa disadari, perokok dengan kecanduan nikotin secara otomatis akan menambah jumlah rokok yang dihisap dalam sehari dan menghirup setiap rokok lebih dalam untuk mendapatkan tingkat efek atau kepuasan tertentu. Maka dari itu, apapun jenis rokoknya akan memiliki dampak yang sama.

Mitps 5 : Rokok elektrik bisa membantu berhenti merokok

Banyak perokok yang memulai berhenti merokok dengan cara mengganti rokoknya dengan rokok elektrik atau sering disebut juga vaping. Sayangnya, studi terbaru dari Universitas California, San Francisco, Amerika Serikat, menemukan bahwa rokok elektrik tidak efektif untuk membantu perokok berhenti.

Hasil analisis penelitian dari 82 studi memperlihatkan, dari semua orang yang menggunakan rokok elektrik, hanya sedikit sekali yang pada akhirnya benar-benar berhenti merokok.

Mitos 6 : Merokok tidak apa asal diimbangi dengan olahraga dan mengonsumsi makanan bergizi

Faktanya, para perokok percaya bahwa berolahraga, mengonsumsi buah-buahan dan sayuran serta merawat diri dapat menyeimbangkan efek berbahaya dari merokok. Padahal, setiap rokok yang dihisap tetap saja akan mebawa Anda pada risiko yang berbahaya. Merokok dapat menyebabkan kanker dan penyakit stroke, jantung, serta penyakit paru-paru. Jika ingin benar-benar sehat, maka meninggalkan kebiasaan merokok merupakan satu-satunya jalan terbaik.

Mitos 7 : Jika sudah pernahberhenti merokok kemudian gagal, maka memang tidak bisa berhenti

Banyak perokok yang sudah mencoba beberapa kali untuk berhenti merokok sampai akhirnya berhasil berhenti merokok sampai seterusnya. Namun, jangan menyerah meskipun Anda gagal, teruslah mencoba untuk berhenti.

Jika Anda sudah mencoba beberapa kali dan mulai putus asa, Edelma menyebutkan, “Anggap saja pertama kali Anda mencoba berhenti adalah latihan, kedua kalinya juga latihan, dan pada kali ketiga atau keempat Anda mulai memahaminya. Semakin lama Anda akan semakin baik dalam berhenti merokok sampai lama kelamaan bisa berhenti total.”

Mitos 8 : Sudah lama merokok, kerusakannya sudah terlanjur parah. Percuma saja berhenti

Anggapan ini tentu salah. Manfaat yang didapatkan setelah berhenti merokok akan sangat ebsar, dan sudah bisa terlihat pada hari pertama berhenti merokok. Dalam sebulam Anda akan merasa bisa menghirup lebih banyak udara di paru-paru. Dalam satu tahun, risiko Anda terkena serangan jantung akan berkurang sebanyak 50%.

Berdasarkan American Cancer Society, perokok yang berhenti sebelum berusia 35 tahun dapat mencegah 90% risiko masalah kesehatan karena merokok. Perokok yang berhenti sebelum berusia 50 tahun memangkas kemungkinan kematiannya dalam 15 tahun ke depan dibandingkan dengan seseorang yang terus merokok.

Sebenarnya masih ada banyak mitos yang masih dipercayai oleh para perokok sampai sekarang. Hal tersebut tentu akan membuat para perokok semakin sulit untuk berhenti. Maka dari itu, bulatkan tekad Anda untuk berhenti merokok dan jangan sampai terjebak dalam mitos yang belum diketahui kebenarannya.

 

Baca juga :

LEAVE A COMMENT

theme by teslathemes